Perekonomian Indonesia pada triwulan pertama 2026 tumbuh 5,61 persen (year-on-year) yang dapat dikatakan sebuah capaian kinerja solid. Angka ini tidak hanya lebih cepat dibanding dengan periode sebelumnya, tapi juga memperlihatkan ketahanan ekonomi nasional meskipun tekanan global masih berlanjut.

“Di tengah gejolak dan tekanan perekonomian global yang tidak menentu, kita masih bisa tumbuh 5,61 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan keempat tahun lalu yang 5,39 persen,” ujar Menteri Keuangan dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi April 2026 yang diselenggarakan di Jakarta,

Pertumbuhan tersebut ternyata berbanding terbalik dengan nilai tukar rupiah yang justru menunjukkan perlemahan. Berdasarkan data statistik Trading Economics, kondisi rupiah terus terdepresiasi selama beberapa bulan terakhir hingga per 1 Juni 2026 mencapai 17.852 rupiah, kenaikan tersebut terus naik secara bertahap dari awal tahun.

Kondisi ini berdampak pada daya beli masyarakat. Menurut survei yang dilakukan indikator politik indonesia terhadap harga kebutuhan pokok di Indonesia pada April 2026 menunjukan bahwa 54,6 persen responden menyatakan harga kebutuhan pokok semakin tidak terjangkau.

Fenomena tersebut pada akhirnya memunculkan sebuah paradox, dimana sebuah kenaikan perekonomian yang diklaim oleh kementrian ternyata berbanding terbalik dengan kondisi lapangan di Indonesia.

Disamping hal tersebut, pernyataan Prabowo Subianto terkait kondisi perekonomian negara dalam peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih pada 16 Mei 2026, justru menambah gejolak baru dengan menyatakan “Orang desa tidak pakai dolar, Mau dolar berapa ribu kek? Kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar. Bilang yang pusing yang itu yang suka ke luar negeri”.

Ungkapan tersebut dapat dikatakan terdapat ketidakseriusan dari pemerintah dalam menyikapi permasalahan ekonomi yang menimpah Indonesia. Menurut Rijadh Djatu Winardi, S.E., M.Sc., Ph.D. yang merupakan akademisi Universitas Gadjah Mada menyatakan melemahnya rupiah dapat berpengaruh terhadap harga komoditas yang dikonsumsi masyarakat.

Kriminalitas di Jember

Kabupaten Jember, Jawa Timur dilanda darurat kriminalitas hal tersebut ditandai oleh rentetan tindak kriminalitas. Pada awal Mei 2026 terdapat kasus dimana seorang ibu penjual sayur tewas dibegal di jalur nasional Jember-Lumajang saat hendak bekerja pada dini hari. Kasus ini paling menyita perhatian publik dan memicu surat terbuka warga kepada Presiden Prabowo Subianto “Kriminalitas ini bukan lagi sekadar pencurian biasa. Masyarakat kecil yang bekerja malam dan dini hari menjadi korban paling rentan.”

Kemudian pada malam 18 Mei 2026, sepeda motor Scoopy raib dari parkiran minimarket di Kecamatan Gumukmas. Pelaku berinisial R (26), warga Lumajang, ditangkap keesokan harinya, 19 Mei 2026, sekitar pukul 21.10 WIB. Namun hanya beberapa jam berselang, pada malam yang sama sekitar pukul 22.00 WIB, terjadi kejar-kejaran antara Tim Resmob Polres Jember dengan pelaku pencurian motor dari Gumukmas hingga Desa Yosorari Sumberbaru. Pelaku ternyata residivis bersenjata celurit asal Lumajang. Dua kasus dalam dua malam berturut-turut. Bagi masyarakat Jember, ini bukan peristiwa langka ini sudah menjadi sebuah pola yang mengkhawatirkan.

Jawa Pos Radar Jember mencatat, dalam sebulan terakhir pada periode sebelumnya, sedikitnya ada 11 kejadian menonjol yang terlaporkan dan diungkap Kepolisian Resor (Polres) Jember. Mulai dari begal sepeda motor, penipuan, perampokan, pencurian dengan kekerasan, dugaan pemerkosaan terhadap anak, penculikan anak, hingga modus kejahatan seksual melalui akun palsu. Kawanan begal motor bahkan berani beraksi di Jembatan Semanggi, kawasan kota yang dikenal tak pernah sepi. Kawanan pelaku yang berjumlah tiga orang membacok dua korban hingga berlumuran darah. Modus lain yang kian marak belakangan adalah aksi lempar atau pecah kaca mobil, terutama di kawasan Puger dan sepanjang jalur yang menghubungkan kecamatan-kecamatan di sisi barat Jember.

Yang memperumit situasi, sebagian besar pelaku begal merupakan warga dari luar Jember, terutama dari Lumajang. “Dipencet di satu wilayah, bisa bergeser ke wilayah lain.” ujar Kompol Istono, Kepala Bagian Operasi Polres Jember. Warga pun merasa resah. Yudi seorang pedagang warga Kasian, Kecamatan Puger mengungkapkan “Tentunya khawatir, apalagi anak saya perempuan. Kalau anak saya berangkat kuliah dari Kasian, ya, was-was.”

Menurut laporan Badan Narkotika Nasional (BNN) Jember, dalam beberapa bulan terakhir prevalensi pengguna narkoba di kalangan remaja meningkat sebesar 15 persen, yang menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pihak berwenang. Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), 65 persen responden di Jember merasa takut untuk bepergian sendirian pada malam hari setelah membaca berita kriminal.

Hubungan Kedua Fenomena

Situasi di Jember bukan sebuah anomali lokal. Secara nasional, tren kejahatan konvensional tengah mengkhawatirkan. Kejahatan konvensional mendominasi laporan kriminalitas nasional dengan 249.589 kasus pada semester pertama 2025, dengan tingkat penyelesaian perkara hanya 43,22 persen. Lima Polda dengan jumlah kasus tertinggi adalah Polda Metro Jaya, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Polda Jawa Timur masuk dalam daftar lima besar nasional, sebuah konteks yang memperkuat betapa persoalan kriminalitas di Jember merupakan bagian dari fenomena yang lebih besar.

Pelemahan rupiah hingga Rp17.823 per dolar AS berdampak kepada komoditas dalam negeri yang banyak melakukan ekspor. Hal ini ternyata turut berdampak kepada memburuknya tingkat PHK yang dilakukan oleh pabrik-pabrik manufaktur ataupun usaha yang gulung tikar. Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) masih tinggi yakni 7,47 juta penduduk.

Banyak dari para penganggur ini kemudian beralih ke usaha mandiri di sektor informal (UMKM). Namun permasalahan muncul lagi: karena banyak komoditas dalam negeri dijual ke luar negeri (ekspor), ketika rupiah melemah, harga komoditas tersebut di dalam negeri ikut melonjak. Akibatnya, jumlah penjual menjadi lebih banyak daripada pembeli, dan daya beli masyarakat merosot tajam. Masyarakat pun mulai berhemat – yang dalam skala makro justru memperlambat perputaran ekonomi nasional.

Berdasarkan data dari Pusiknas (Pusat Informasi Kriminal Nasional) menunjukkan adanya peningkatan kriminalitas dibanding tahun sebelumnya. Hal ini turut menunjukkan sinyal negatif dari kondisi ekonomi yang tengah terjadi saat ini yang turut serta memengaruhi pendapatan masyarakat. Selain itu, penelitian Ponsaers, Shapland, & Williams (2008) menjelaskan bahwa sektor informal memiliki kecenderungan lebih beresiko terhadap tindak kriminal. Hal ini juga sejalan dengan kondisi sektor informal yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa ketidakpastian pendapatan serta turunnya daya beli masyarakat dapat membuat menurunnya kualitas hidup seseorang yang dapat berujung terhadap terjadinya tindak kriminal.

Tindak Lanjut

Menghadapi situasi ini, Polres Jember mengambil langkah konkret. Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, Polres Jember membentuk Tim Khusus (Timsus) Anti Begal yang bertugas melakukan tindakan cepat, terukur, dan tegas terhadap pelaku kejahatan jalanan seperti begal, curanmor, pecah kaca, serta tindak kejahatan lainnya di wilayah Kabupaten Jember. Tim khusus tersebut terdiri dari gabungan personel Reskrim, Intelkam, Samapta, dan Satuan Lalu Lintas. Selain itu, Polres Jember menggelar patroli secara berkala di seluruh wilayah, termasuk jalur-jalur sepi yang dinilai rawan tindak kriminalitas.

“Kami terus meningkatkan patroli dan penindakan terhadap pelaku kriminalitas jalanan. Tidak ada ruang bagi pelaku kejahatan yang meresahkan masyarakat. Bersama, kita wujudkan Jember yang aman, nyaman, dan kondusif.”ujar Ipda M. Zazim, Kasi Humas Polres Jember, 23 Mei 2026.

Di balik angka dan insiden, para akademisi menawarkan pembacaan yang lebih dalam. Sosiolog Dr. Sara Lestari berpendapat bahwa meningkatnya angka kriminalitas seperti pencurian dengan kekerasan seringkali dipicu oleh kondisi ekonomi yang sulit. Menurutnya, solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum, melainkan juga harus menyentuh akar masalah kemiskinan dan keterbatasan lapangan kerja. “Untuk menanggulangi hal ini, kita perlu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” ucap beliau. Pernyataan itu selaras dengan pengakuan kalangan politisi lokal. Dalam acara pelantikan pengurus partai di Jember, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Widarto, secara lantang menyuarakan keprihatinan serupa: ‘Situasi geopolitik memanas, ekonomi kita sedang sulit, kriminalitas meningkat.’

Jember adalah kota pendidikan dan pesantren, sebuah identitas yang selama ini menjadi kebanggaan warganya. Namun rentetan kejahatan yang mengepung wilayah ini dalam dua tahun terakhir menghadirkan ujian berat terhadap citra itu. Keberhasilan Polres Jember meringkus sejumlah pelaku, termasuk para residivis bersenjata dari luar kota, memang patut diapresiasi. Namun selama akar masalah ekonomi dan sosial belum ditangani secara serius dan berkelanjutan, pertanyaan mendasar tetap menggantung di langit Jember: apakah penindakan hukum semata cukup untuk memadamkan bara yang terus menyala di bawah permukaan?

 

Penulis: Seyla Irfania

Editor: Roihan Ramanda

Tim Reporter: Siti Lailatul, Icha Adelya, Kusfita, Fazl, Gavra

Illustrator: Ana Fauziah

Referensi:

Azis, L., & Ridwan, R. (2025). Dinamika Kriminalitas Dalam Masyarakat (Faktor Sosial dan Solusinya). Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Merah Putih, 1(1), 33–43. https://doi.org/10.65661/jpkmmp.v1i1.17

Ponsaers, P., Shapland, J., & Williams, C.C. (2008). Does the informal economy link to organised crime?. International Journal of Social Economics, Vol. 35, No. 9, pp. 644-650.

https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Ekonomi-Indonesia-Tumbuh-5,61-Persen

https://tradingeconomics.com/indonesia/currency

https://money.kompas.com/read/2026/05/19/204558126/survei-indikator-publik-makin-merasa-harga-kebutuhan-pokok-makin-tak

https://newspatroli.com/tim-resmob-satreskrim-polres-jember-berhasil-bekuk-pelaku-begal-bersajam/

Beraksi Bawa Clurit, Begal Asal Lumajang Berhasil Diringkus di Jember

https://www.radarjember.net/posts/alarm-jember-darurat-kriminalitas-ini-kasus-menonjol-yang-terjadi-sebulan-terakhir-2

https://radarjember.jawapos.com/jember/795094280/ketika-jember-darurat-kriminalitas-tak-segera-teratasi-bisa-terstigma-jadi-kota-begal

https://www.ujungpublik.com/2026/05/darurat-begal-curanmor-lumajang-jember-probolinggo-warga-surati-presiden-prabowo.htm

https://www.ngopibareng.id/read/begal-bersenjata-celurit-asal-lumajang-dilumpuhkan-di-jember

https://rri.co.id/jember/regional/2429110/polres-jember-bentuk-tim-khusus-antisipasi-begal-dan-lempar-kaca

Berita Kriminal Jember: Mengungkap Kasus Terpanas Bulan Ini

Dampak Berita Kriminal Jember terhadap Keamanan Masyarakat

https://polkam.go.id/kejahatan-meningkat-penyelesaian-menurun-pemerintah-perkuat-sinkronisasi-nasional/

https://pusiknas.polri.go.id/detail_artikel/refleksi_akhir_tahun:_data_kepolisian_dan_tantangan_penegakan_hukum

https://tribratanews.resjember.jatim.polri.go.id/23/05/2026/waspada-kriminalitas-tim-anti-begal-polres-jember-siaga-dan-siap-bertindak/

https://visi.news/polres-jember-bentuk-timsus-anti-begal-untuk-tekan-kriminalitas-jalanan/

Widarto Instruksikan Kader PAC dan Ranting Hadir dan Berikan Solusi Nyata Dari Problem Rakyat

https://radarjember.jawapos.com/jember/795094291/soal-maraknya-kasus-begal-di-jember-jadi-atensi-polisi-warga-diimbau-tetap-waspada-ini-kata-kasat-reskrim-polres-jember

Residivis Begal Asal Lumajang Ditangkap di Jember, Sempat Acungkan Clurit Saat Dikejar Polisi

http://pusiknas.polri.go.id/detail_artikel/potret_dan_analisis_kejahatan_selama_operasi_ketupat_2026

http://www.tempo.co/data/data/tren-kriminalitas-naik-indonesia-aman–2138779

https://tribratanews.resjember.jatim.polri.go.id/23/05/2026/waspada-kriminalitas-tim-anti-begal-polres-jember-siaga-dan-siap-bertindak/